Untuk Gadis Malang yang meronta-ronta di 16 Juni 2010
Pilu. Apa yang akan kau pilih? Mengundur impianmu atau melepaskan nyawa ayahmu. Gadis malang, mungkin kita sebaya atau mungkin kau telah mengundur impianmu yang harusnya kau raih tahun lalu. Aku yakin tidak akan pernah terlintas di otakmu kau harus melihat ayahmu tergolek lemah di pinggir jalan , ntah jasadnya akan berpisah dengan raganya saat itu. Aku yakin kau tak akan mau membayangkan. Sayang, kini kau liat beliau terbaring lemah di atas kasur kerikil-kerikil yang mungkin tak tega menyakiti jasad ayahmu yang rela mengantarmu pagi itu. Kau sendiri mungkin tak tahu, beliau bangun sebelum para gharin2 bernyanyi indah untuk Yang Maha Kuasa. Beliau mungkin bangun untuk tahajud, mendo’akan kau, anak gadisnya, agar mampu untuk mengerjakan ujian pagi ini. Dan kau mungkin juga tidak tau, hari ini beliau mungkin sedang tidak enak badan tetapi beliau memaksa menguatkan diri mengantarkanmu, memastikan kau tak telat atau selamat sampai lokasi ujian. Dan kecelekaan pagi ini memang bukan salahmu atau salah ayahmu yang terlalu memaksakan diri. DAN INI JUGA BUKAN SALAH TUHAN. Kecelekaan pagi ini adalah karena kehendak Tuhan. Mungkin Dia ingin kau,gadis malang, mengambil pelajaran terbesar dalam hidupmu.
Gadis yang malang, aku yakin kau adalah gadis kuat. Aku tidak akan kesal denganmu atau ayahmu, aku iba melihatmu. Gadis malang, aku yakin kau tak berfikir sepertiku, tapi aku BENCI melihat manusia-manusia tak berhati yang membiarkan kau terlonta-lonta. Kau seperti seorang artis dan mereka hanya menonton kau. Aku kesal dengan para supir-supir angkot yang menolak mengantar ayahmu ke rumah sakit. Mereka lebih mementingkan uang ketimbang nyawa seorang manusia yang tergolek lemah. Jika kau lemparkan secarik uang kertas berwarna merah atau biru barulah mereka berebutan membawa ayahmu. Gadis malang, akupun malu dengan diriku karena tak bisa membantumu. Aku sendiri juga kesal dengan diriku yang tak bisa berbuat apa-apa hanya melihat, menggerutu dan memilih untuk meraih cita-citaku sendiri.
Gadis yang malang, ini pelajaran untukmu dan untukku.
Aku hanya bisa memandangi sosok pria yang mengantarkanku ujian pagi itu. Papa itulah sebutan untuknya. Dan aku tidak ingin beliau terluka di tanganku. Terimakasih papa yang setia mengantarkanku setiap ujian. Terimakasih do’amu.
Gadis yang malang, dimanapun kau kini, sepatah do’a akan ku sampaikan kepada Tuhan untukmu dan untuk ayahmu. Bagaimana kabar ayahmu?? Bagaimanapun beliau aku yakin kau adalah gadis yang tegar. Mungkin kau harus mengundur impianmu tapi aku yakin kau pasti akan segera mendapatkannya. Atau kau dan “orang-orang itu” telah melepas nyawa ayahmu tapi aku yakin kau adalah gadis yang kuat. Kau adalah gadis yang tegar.

